Agama dan Indonesia
Selamat menjalankan bulan suci puasa bagi umat Islam. sudahlah hentikan perpecahan yang mulai muncul belakangan ini, tidak seharusnya kita carut marut karena keadaan, mulailah membenahi diri, mulai bersikap seperti patriot sejati. indonesia bukan negara yang dibangun dari satu dua sisi, indonesia dibangun dari sifat gotong royong masyarakat untuk bangkit dan merdeka dari segala sisi. Janganlah merasa yang paling benar dalam segala hal, karena hidup itu dinamis perlu keterlibatan masyarakat dalam melangkah. Bahkan seorang Actor pun perlu pemeran pembantu untuk menjadikan kisahnya.
Membandingkan sesuatu yang jelas berbeda. membandingkan agama dan politik praktis yang rawan menjadi politik kotor, tak semestinya kita saling hujat menghujat karena beda agama karena indonesia tercipta bukan karena penderitaan agama yang sama, tapi karena penderitaan pembodohan, perbudakan, penderitaan kebebasan dan ekonomi. Rukun agawe santososo merupakan harapan yang seharusnya dibangun bersama masyarakat. pelemahan-pelemahan terhadap bangsa yang harusnya kita waspadai, karena bung karno selalu mengatakan " Perjuangan kalian lebih berat karena melawan Bangsamu sendiri"
Akhiri saja kebisingan ini, bukan saatnya kita teriak membela tapi miskin logika dan mudah di adu domba. Percayalah bahwa Tuhan yang Maha Esa mencintai kedaimaian tidak ada satupun yang mengajarkan sifat benci dan serakah. Percayalah Tuhan yang Maha Esa ini menciptakan kita berbeda bukan karena saling adu domba, tapi karena saling menjaga dalam keberagaman itulah mukjizat Tuhan yang Maha Esa untuk umat manusia. ketika kita berbeda tapi saling dendam dan perang. Lantas apa bedanya kita dengan Hewan??
Biarkan aku dan islamku menyambut bulan suci ramadhan ini dengan berpuasa. Biarkan kamu dan Kristenmu tetap menjalankan ibadahmu di gereja dengan suka cita. Biarkan Hindhu dan penganutnya menjalankan ibadah Nyepi dan upacara Ngaben. Diselimuti rasa saling menghargai, saling toleransi dan tau diri.
Bukankah Agama mencerminkan Persatuan dan Kecintaan, Kenapa kini jadi ajang Kehancuran dan Permusuhan?
- DBF


Komentar